Powered By Blogger

Sabtu, 09 Agustus 2014

Macam-Macam Festival di Jepang


Festival Sichi-Go-San


Shichi-Go-San (七五三 ,Shichigosan, 3, 5, 7) adalah nama upacara di Jepang yang merayakan pertumbuhan anak berusia 3, 5, dan 7 tahun. Perayaan dilakukan setiap tahun sekitar tanggal 15 November dan bukan merupakan hari libur.

Peserta perayaan adalah anak laki-laki berusia 3 dan 5 tahun, dan anak perempuan berusia 3 dan 7 tahun. Umur-umur tersebut dipercaya sebagai tonggak sejarah dalam kehidupan, dan angka-angka ganjil menurut tradisi Tionghoa dipercaya membawa keberuntungan. Anak-anak yang cukup umur sebagai peserta Shichi Go San didandani dengan kimono dan dibawa ke kuil Shinto untuk didoakan. Orang tua memanfaatkan kesempatan ini untuk mengabadikan anak-anak yang sudah berpakaian bagus dengan berfoto di studio foto.

Anak-anak yang merayakan Shichi Go San mendapat hadiah permen panjang yang disebut permen chitose (千歳飴 ,chitoseame, permen seribu tahun) yang dipercaya membuat anak sehat dan panjang umur. Kantong tempat permen chitoseame bergambar kura-kura dan burung jenjang yang merupakan simbol umur panjang.

Sejarah :
Hari ke-15 menurut kalender Tionghoa merupakan hari baik dan semua yang dilakukan di hari tersebut dipercaya membawa keberuntungan, dan bulan 11 merupakan bulan selesai panen. Orang zaman kuno pergi ke kuil di bulan purnama hari ke-15 bulan ke-11 untuk berterima kasih atas hasil panen. Kesempatan ini sekaligus digunakan untuk berterima kasih atas pertumbuhan anak, serta memohon perlindungan agar anak tetap sehat dan dapat tumbuh hingga dewasa.

Di zaman dulu, angka kematian anak kecil sangat tinggi sehingga lahir tradisi merayakan anak-anak yang berhasil mencapai usia tertentu di kalangan keluarga petani di Jepang. Tradisi ini meluas ke kalangan samurai yang menambahkan sejumlah upacara. Anak perempuan dan anak laki-laki berusia 3 tahun mengikuti upacara Kamioki yang menandai mulai dipanjangkannya rambut anak setelah sebelumnya selalu dicukur habis.


Anak usia 5 tahun mengikuti upacara Hakama-gi yang menandai pertama kali anak mulai memakai hakama dan haori. Anak perempuan mengikuti upacara Obitoki Himo-otoshi yang menandai pergantian kimono yang dipakai anak perempuan, dari kimono anak-anak yang bertali menjadi kimono berikut obi seperti yang digunakan orang dewasa. Kesempatan Shichi Go San sering merupakan kesempatan pertama bagi anak perempuan untuk merias wajah.Sejak kalender Gregorian digunakan di Jepang, perayaan dilangsungkan pada 15 November. Di zaman sekarang, waktu membawa anak ke kuil sebagai Shichi Go San sudah disesuaikan dengan waktu libur orangtua. Anak boleh dibawa kapan saja ke kuil di sepanjang bulan November (hari Sabtu, Minggu, atau hari libur), dan tidak harus persis di tanggal 15 November. Di Hokkaido dan daerah-daerah dengan musim dingin yang sangat dingin, udara sudah dingin di sekitar 15 November sehingga perayaan sering dilakukan sebulan lebih awal pada 15 Oktober.



Festival Tanabata



Tanabata (七夕) atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang, Tiongkok, dan Korea. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Di Tiongkok, perayaan ini disebut Qi Xi.

Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus.

Aksara kanji yang digunakan untuk menulis Tanabata bisa dibaca sebagai shichiseki (七夕, malam ke-7). Di zaman dulu, perayaan ini juga ditulis dengan aksara kanji yang berbeda, tapi tetap dibaca Tanabata (棚機). Tradisi perayaan berasal dari Tiongkok yang diperkenalkan di Jepang pada zaman Nara.


Sejarah :
Tanabata diperkirakan merupakan sinkretisme antara tradisi Jepang kuno mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie asal Tiongkok yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah. Daun bambu (sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.

Legenda Qi Xi pertama kali disebut dalam literatur Gushi shijiu shou (古詩十九編, 19 puisi lama) asal Dinasti Han yang dikumpulkan kitab antologi Wen Xuan (文選). Selain itu, Qi Xi juga tertulis dalam kitab Jing-Chu suishi ji (荊楚歲時記, festival dan tradisi tahunan wilayah Jing-Chu) dari zaman Dinasti Utara dan Selatan, dan kitab Catatan Sejarah Agung. Literatur Jing-Chu suishi ji mengisahkan para wanita memasukkan benang berwarna-warni indah ke lubang 7 batang jarum pada malam hari ke-7 bulan ke-7 yang merupakan malam bertemunya Qian Niu dan Zhi Nu, dan persembahan diletakkan berjajar di halaman untuk memohon kepandaian dalam pekerjaan menenun.

Legenda asli Jepang tentang Tanabatatsume dalam kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai, dan menunggu di rumah menenun untuk dijadikan istri semalam sang dewa agar desa terhindar dari bencana. Perayaan Qi Xi dihubungkan dengan legenda Tanabatatsume, dan nama perayaan diubah menjadi "Tanabata". Di zaman Nara, perayaan Tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man'yōshū terdapat puisi tentang Tanabata karya Ōtomo no Yakamochi dari zaman Nara. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa di zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.


Tradisi :
Perayaan dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di tengah malam bintang-bintang naik mendekati zenith, dan merupakan saat bintang Altair, bintang Vega, dan galaksi Bima Sakti paling mudah dilihat.
Kemungkinan hari cerah pada hari ke-7 bulan ke-7 kalender Tionghoa lebih besar daripada 7 Juli yang masih merupakan musim panas. Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu (洒涙雨), dan konon berasal dari air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.

Festival Tanabata dimeriahkan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Di Tiongkok, tali untuk mengikat terdiri dari 5 warna dan bukan kertasnya. Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis.

Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.


Festival Hanami


Hanami (花見, melihat bunga) atau ohanami adalah tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Mekarnya bunga sakura merupakan lambang kebahagiaan telah tibanya musim semi. Selain itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura.

Pohon sakura mekar di Jepang dari akhir Maret hingga awal April (kecuali di Okinawa dan Hokkaido). Prakiraan pergerakan mekarnya bunga sakura disebut garis depan bunga sakura (sakurazensen). Prakiraan ini dikeluarkan oleh direktorat meteorologi dan berbagai badan yang berurusan dengan cuaca. Saat melakukan hanami adalah ketika semua pohon sakura yang ada di suatu tempat bunganya sudah mekar semua.

Festival Hinamatsuri



Hinamatsuri (雛祭り, ひなまつり) atau Hina Matsuri adalah perayaan setiap tanggal 3 Maret di Jepang yang diadakan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan. Keluarga yang memiliki anak perempuan memajang satu set boneka yang disebut hinaningyō (雛人形, boneka festival).

Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di 
kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).

Walaupun disebut matsuri, perayaan ini lebih merupakan acara keluarga di rumah, dan hanya dirayakan keluarga yang memiliki anak perempuan. Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak membantu orang tua mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap roh-roh jahat dan nasib sial.


Susunan boneka :
Boneka diletakkan di atas panggung bertingkat yang disebut dankazari (tangga untuk memajang). Jumlah anak tangga pada dankazari ditentukan berdasarkan jumlah boneka yang ada. Masing-masing boneka diletakkan pada posisi yang sudah ditentukan berdasarkan tradisi turun temurun. Panggung dankazari diberi alas selimut tebal berwarna merah yang disebut hi-mōsen.
Satu set boneka biasanya dilengkapi dengan miniatur tirai lipat (byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan diletakkan sepasang miniatur lampion (bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik sebagai hiasan.

Tangga teratas
Dua boneka yang melambangkan kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama) diletakkan di tangga paling atas. Dalam bahasa Jepang, dairi berarti "istana kaisar", dan hina berarti "sang putri" atau "anak perempuan". Wilayah Kansai dan Kanto memiliki urutan kanan-kiri yang berbeda dalam penempatan boneka kaisar dan permaisuri, namun susunan boneka di setiap anak tangga berikutnya selalu sama.

Tangga kedua
Tiga boneka puteri istana (san-nin kanjo) diletakkan di tangga kedua. Ketiga puteri istana membawa peralatan minum sake. Boneka puteri istana yang paling tengah membawa mangkuk sake (sakazuki) yang diletakkan di atas sampō. Dua boneka puteri istana yang lain membawa poci sake (kuwae no chōshi), dan wadah sake yang disebut (nagae no chōshi). Gigi salah satu boneka puteri istana dihitamkan (ohaguro) dan alisnya dicukur habis. Dalam boneka versi Kyoto, puteri istana yang paling tengah dari Kyoto membawa shimadai (hiasan tanda kebahagiaan dari daun pinus, daun bambu, dan bunga ume).

Tangga ketiga
Lima boneka pemusik pria (go-nin bayashi) berada di tangga ketiga. Empat musisi masing-masing membawa alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat. Alat musik yang dibawa masing-masing pemusik adalah taiko, ōkawa, kotsuzumi, dan seruling.

Tangga keempat
Dua boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) berada di tangga ke-4. Boneka Menteri Kanan digambarkan masih muda, sedangkan boneka Menteri Kiri tampak jauh lebih tua. Dari sudut pandang pengamat, Menteri Kanan berada di sebelah kiri, sedangkan Menteri Kiri berada di sebelah kanan.

Tangga kelima
Pada tangga kelima diletakkan tiga boneka pesuruh pria (shichō). Ketiganya masing-masing membawa bungkusan berisi topi (daigasa) yang dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakkan di atas sebuah nampan, dan payung panjang dalam keadaan tertutup. Dalam boneka versi lain, pesuruh pria membawa penggaruk dari bambu (kumade) dan sapu. Selanjutnya, kereta sapi dan berbagai miniatur mebel yang dijadikan hadiah pernikahan diletakkan di atas tangga-tangga di bawahnya.

Hidangan :


Hidangan istimewa untuk anak perempuan yang merayakan Hinamatsuri antara lain: kue hishimochi, kue hikigiri, makanan ringan hina arare, sup bening dari kaldu ikan tai atau kerang (hamaguri), serta chirashizushi. Minumannya adalah sake putih (shirozake) yang dibuat dari fermentasi beras ketan dengan mirin atau shōchū, dan kōji. Minuman lain yang disajikan adalah sake manis (amazake) yang dibuat dari ampas sake (sakekasu) yang diencerkan dengan air dan dimasak di atas api.

Sumber : http://apple-pearles.blogspot.com/

7 Jenis Kimono yang Biasa dikenakan di Jepang




Kimono, pakaian tradisional khas Jepang ini sangat terkenal bukan hanya di Jepang tapi juga diberbagai negara. Mulai dari anak anak sampai orang dewasa cocok mengenakan kimono, pakaian tradisional ini tidak hanya merupakan simbol dari keunikan tradisi di Jepang tapi juga merupakan warisan budaya yang sangat dijaga oleh orang orang Jepang. Orang jepang sering memakai kimono diberbagai kesempatan seperti festival dan juga acara acara formal, tapi tahukah minna-san jika kimono memiliki banyak jenis, setiap kimono memiliki fungsi dan keunikan tersendiri. Ingin tahu lebih lanjut apa saja jenis jenis Kimono yang ada di Jepang? ayo disimak, dozoo....





Sebelum kita melihat berbagai jenis kimono, mari kita kembali sebentar melihat sejarah dibalik pakaian tradisional Jepang yang sangat terkenal ini. Kimono yang kita kenal pada saat ini merupakan pakaian tradisional masyarakat Jepang pada zaman Edo sekitar tahun 1600-1868. Ada perbedaan cara memakai kimono pada zaman itu dimana untuk wanita di kelas samurai memiliki cara mengenakan kimono yang lebih sederhana dibandingkan wanita yang berada di luar kelas samurai, mereka yang berada di luar kelas samurai memiliki gaya mengenakan kimono yang lebih beragam.




Pita besar yang diikat dibagian belakang kimono disebut obi, pada awalnya obi diikat dibagian depan atau samping dari kimono sampai suatu ketika seorang aktor kabuki pada saat melakukan pagelaran mengenakan obi yang diikat dibagian belakang kimono sekitar tahun 1700, disinilah awal mula cara mengenakan kimono dizaman modern berasal yang sekrang sering kali kita lihat.


Ada berbagai jenis Kimono di Jepang, tidak hanya berbeda bentuk desainnya saja tetapi fungsi dari setiap kimono pun berbeda beda.


1.Yukata, Kimono musim panas




oke..... yukata juga sebuah kimono, hanya saja fungsi dan penamaannya membuat kebanyakan orang berpikir bahwa yukata adalah yukata bukan kimono, yukata berasal dari penamaan yu (mandi) dan katabira (pakaian dalam). Pada masa heian, para bangsawan Jepang selalu mengenakan sebuah piama tipis berbahan linen setelah mereka menikmati pemandian air panas, tradisi inipun berlanjut sampai periode edo dimana pada saat itu pemandian air panas sudah sangat digemari oleh orang orang Jepang, yaap orang Jepang sangat suka pemandian air panas. Sampai saat ini yukata pun juga disediakan sebagai pakaian bagi para tamu ryokan (penginapan tradisional Jepang) saat mereka selesai menikmati onsen pribadi, biasanya pelayan ryokan akan menyediakan beberapa helai yukata di dalam lemari kamar penginapan. Yukata yang saat ini umum digunakan terbuat dari bahan katun tipis yang sangat nyaman dan sejuk saat digunakan, tidak heran jika yukata sangat cocok dikenakan saat musim panas tiba. Pada saat menghadiri festival musim panas di Jepang seperti bon odori, minna-san akan banyak menemui orang orang yang mengenakan Yukata.


2. Furisode, Kimono yang melambangkan kedewasaan




Ketika seorang anak perempuan di Jepang menginjak umur 20 tahun, orang tuanya akan menghadiahi anak tersebut dengan sebuah kimono saat perayaan seijin no hi atau hari menuju dewasa sang anak. Umur 20 tahun merupakan sebuah tanggung jawab bagi sang anak, mereka telah diberi tanggung jawab penuh untuk semua hal yang ingin mereka lakukan. Furisode merupakan kimono berlengan panjang dan memiliki tampilan warna yang mencolok dan terbuat dari bahan kain sutra yang berkualitas tinggi, arti dari furisode sendiri adalah "swinging sleeves" atau lengan yang berkibas, hmmm.... cukup aneh jika diartikan lebih lanjut.


3. Homongi




Jika furisode melambangkan beranjaknya seorang wanita menuju umur "dewasa" maka Homongi melambangkan sebuah awal baru bagi kehidupan wanita di Jepang, yaap sebuah pernikahan. Banyak orang tua yang memberikan Homongi sebagai hadiah untuk anaknya yang baru saja menikah untuk menggantikan furisode yang mereka miliki. Homongi biasanya dipakai oleh wanita Jepang yang sudah menikah pada saat upacara minum teh atau menghadiri upacara pernikahan kerabat jauh seperti teman dan..... mantan pacar *uhuk uhuk


4. Tomesode




Tomesode salah satu dari kimono resmi yang dipakai oleh wanita Jepang yang telah menikah, lalu apa yang membedakan Homongi dengan Tomesode? dari segi fungsi tomesode juga dikenakan untuk menghadiri acara formal seperti pernikahan layaknya homongi, akan tetapi tomesode digunakan untuk menghadiri acara pernikahan dari kerabat dekat seperti keluarga kandung. Dari segi tampilan, Tomesode hanya memiliki satu warna yaitu warna hitam, berbeda dengan homongi yang memiliki warna yang lebih bervariasi


5. Kuromontsuki, Kimono untuk kaum lelaki




Jika perempuan bisa memakai kimono, kenapa tidak untuk kaum lelaki. Tentunya kimono ini memiliki desain yang berbeda dari kimono untuk perempuan *yaiyalaah!! , tidak ada pita besar yang diikat dibagian belakang kimono tentunya, jika pun minna-san memaksa yaa... kelihatan aneh sekali dan cukup akward untuk seorang laki laki yang mengenakan kimono dengan obi di bagian belakang. Terasa seperti seorang samurai saat memakai kimono ini, tinggal tambah sedikit sentuhan katana disebelah kanan dan rambut kuncir khas samurai zaman edo maka kadar macho minna-san akan bertambah sangat drastis, terkecuali jika minna-san tetap memaksa untuk menambahkan obi dibagian belakang kimono ini.


6. Mofuku, Kimono disaat berduka




Warna hitam adalah warna khas untuk menggambarkan sebuah rasa duka yang mendalam, begitu juga dengan kimono ini. Mofuku yang merupakan kimono resmi khusus dikenakan untuk menghadiri upacara pemakaman di Jepang, memiliki warna hitam yang menggambarkan suasana saat kimono ini dipakai. Tetapi saat ini orang Jepang sudah mulai mengenakan Jas hitam saat menghadiri upacara pemakaman, hanya sebagian saja yang masih mengenakan kimono hitam ini, biasanya para kerabat dekat (perempuan) dari sang almarhum yang mengenakannya. Jika kalian pernah menonton Usagii drop live ×movie, kalian bisa melihat scene dimana ibu dari kawachi memakai mofuku dan beberapa orang lainnya tidak memakainya, APA!! belum menonton filmnya!!?? minna-san..... kalian benar benar telah melewatkan 2% kebahagiaan dari hidup kalian.


7. Uchikake




Berbeda dengan Tormesode dan Homongi, kimono yang satu ini benar benar dipakai saat hari upacara pernikahan dari seorang wanita Jepang. Mereka memakai uchikake sebagai pakaian resmi saat mereka menikah, kimono yang satu ini merupakan yang paling indah dan tentunya konteks indah ini berbanding lurus dengan harga dari kimono ini, yaap.... uchikake adalah kimono yang paling mahal diantara semua jenis kimono yang ada sehingga kebanyakan keluarga akan menyewa kimono ini saat pernikahan anak mereka, itupun tetap dibandrol dengan harga sewa yang sangat mahal. Kimono ini memiliki desain yang unik menyerupai gaun, kain kimono memanjang sampai menyentuh tanah sehingga pengantin wanita harus dibantu saat mengenakan kimono ini.

Sumber : http://okonomikatsu.blogspot.com/