Powered By Blogger

Selasa, 28 Januari 2014

Mampukah Indonesia Meniru Sistem Pertanian dari Desa Paling Makmur di Jepang?





Repro TBS TV/ Richard Susilo

Desa Kawakami di Perfektur Nagano, Jepang, penghasilan per tahun rata-rata penduduknya 25 juta yen per orang dari bertani, terutama daun selada (lettuce).

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia mestinya bisa menjadi tanah pertanian yang baik apabila dikelola dengan lebih baik. Menggunakan knowhow Jepang, dikembangkan di Indonesia, menghasilkan sayur yang baik dan bisa menghidupi masyarakat pertanian dan sekelilingnya dengan baik.

Demikian ungkap Yamanaka, kepala industri kantor Desa Kawakami(mura), khusus kepada Tribunnews.com, Selasa (20/11/2013) sore. Desa ini adalah desa paling makmur di Jepang dengan penghasilan per kepala per tahun sekitar 25 juta yen, di atas rata-rata penghasilan desa lain yang ada di Jepang.

Penghasilan 50 persen dari hasil perkebunan selada atau lettuce) dan 30 persen dari penjual hakusai (kol, Chinese cabbage) dan sisanya berbagai sayuran lain.

Panen selada biasanya antara April sampai dengan September. Lalu Oktober sampai dengan awal November hanya kol. Selain dipasarkan di dalam negeri Jepang, kedua produk sayur utama desa ini juga di ekspor ke Taiwan dan HongKong. Ke Taiwan sekitar 17.000 boks atau sekitar 40 feet kargo dan ke Hongkong sekitar 1000 boks kol.

Selada dari desa Kawakami yang ada di Minamisaku-gun, perfektur Nagano ini, memang punya aroma sangat enak dan dimakan seperti keripik, enak sekali di santap. Karena itu makanan mentah ini sering disantap begitu saja oleh orang Jepang, ditambah saus yang sesuai lidah masing-masing. Rasa segar luar biasa dan aroma yang sangat enak dan sedap.

"Itulah yang perlu dibuat di Indonesia. Bukan hanya selada atau kol biasa, tetapi harus punya aroma yang baik dan segar. Untuk itu tanahnya juga harus baik dengan kadar dan kualitas yang baik pula. Udara atau cuaca juga sangat mempengaruhi. Karena Jepang punya empat musim, ada musim dingin dan ada musim panas, ini juga mempengaruhi kualitas tanah berkebun sayur sehingga bisa menghasilkan sayuran yang enak. Karena itu perlu tempat yang sejuk pula di Indonesia kalau mau menghasilkan sayuran yang enak, tidak bisa terlalu panas, di samping kelembaban juga ikut mempengaruhi," paparnya lagi.

Perhatian kedua yang mesti dilihat di Indonesia, tambahnya, apakah orang Indonesia suka sayuran mentah? Kalau hal ini tak masalah di Indionesia, makan selada mentah dan kol mentah, maka kemungkinan bisnis besar bisa dilakukan di Indonesia, tekannya lagi.

Bagaimana kalau knowhow Jepang dibawa ke Indonesia, investasi ke Indonesia, tanya Tribunnews.com, "Memang pasar potensial yang bagus Indonesia. Kami memang sudah pikirkan tapi belum meneliti lebih lanjut untuk bisnis demikian di Indonesia. Saat ini yang kami lihat di Malaysia dan Vietnam juga sudah mereka lakukan penanaman sayur-mayur yang baik seperti selada dan kol tersebut. Terus terang hasilnya bagaimana kami belum tahu," ungkapnya lebih lanjut.

Mengingat produksi dan panen dilakukan saat musim panas, maka pada musim dingin biasanya mereka tidak bisa bekerja karena desa ini di perfektur Nagano saat musim dingin salju sangat lebat sehingga menyulitkan perkebunan sayur.

Desa tersebut juga membuat televisi kabel yang diberikan cuma-cuma kepada masyarakatnya supaya dapat bertukar informasi misalnya mengenai harga-harga sayuran di berbagai tempat di Jepang serta informasi lain seperti pertemuan-pertemuan, termasuk upaya menjodohkan para lelaki muda desa tersebut dengan para calon istri muda yang banyak datang dari kota besar.

Jumlah penduduk hanya 4.759 orang dan usia 15-64 tahun sebanyak 64,3 persen. Jadi usia muda sangat dominan di desa ini tidak seperti di tempat lain yang usia tua justru sangat dominan di Jepang.

Sumber : http://www.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar