Powered By Blogger

Senin, 13 Januari 2014

Sadako Sasaki


Sebuah origami kecil berbentuk bangau yang dibuat oleh Sadako Sasaki, seorang gadis Hiroshima yang meninggal karena leukemia (10 tahun setelah bom atom yang dijatuhkan Sekutu), pada akhirnya dikembalikan kepada kakak laki-lakinya melalui sebuah museum peringatan perdamaian di Hiroshima pada hari Jumat.



Origami itu adalah satu dari total 110 origami yang dibuat oleh Sadako yang sudah disumbangkan ke musem tersebut. Bangau kertas tersebut adalah simbol dari umur panjang di Jepang. Selama ia berada di rumah sakit, Sadako terus melanjutkan kegiatannya membuat origami dengan berpegang pada harapan kuno bahwa ketika ia sudah mencapai bangaunya yang ke-1000, penyakitnya bisa disembuhkan.

Kakak laki-lakinya, Masahiro Sasaki (sekarang 71 tahun) berencana untuk mengirimkan bangau kertas tersebut ke kota Okinawa di bulan September, sebagai simbol perdamaian.

"Hiroshima dan Okinawa sudah cukup mengalami penderitaan selama Perang Dunia ke-2. Saya harap bangau-bangau kertas ini bisa membantu membawa ketentraman bagi kita semua melalui rasa simpati dan duka yang telah Sadako sertakan di dalamnya." Ujarnya.



Sadako Sasaki masih berumur 2 tahun ketika para prajurit Amerika membom Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Waktu itu dia sedang berada di rumahnya, 2 kilometer dari titik bom. Pada bulan November 1954, sembilan tahun setelah kejadian, efek bom atom mulai menunjukkan wujud aslinya. Sadako mengalami pembengkakan pada leher dan belakang telinganya. Pada Januari 1955, bintik-bintik berwarna ungu bermunculan di kakinya. Pada tanggal 21 Februari 1955, dia dimasukkan ke rumah sakit setelah di diagnosis menderita leukemia.

Sambil berharap ia bisa disembuhkan, Sadako mulai membuat origami di rumah sakit. Menurut kepercayaan orang Jepang, jika kamu berhasil membuat 1000 bangau kertas, maka keinginanmu akan terkabul. Sadako menginginkan kesembuhan, karena itu dia terus melipat, melipat dan melipat. Saat kekurangan kertas, dia meminta ke suster, menggunakan kertas bekas obatnya, sampai mencari-cari di kamar pasien lainnya.

Sadako berhasil melipat lebih dari 1000 bangau kertas. Dikelilingi oleh keluarganya, Sadako menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 25 Oktober 1955, saat ia sudah menginjak usia 12 tahun.



Sesaat setelah Sadako meninggal, teman-temannya berhasil mengumpulkan uang untuk membangun patung untuk mengenang Sadako dan semua anak-anak yang meninggal karena efek bom atom. Pada tahun 1958, patung Sadako berdiri di Hiroshima Peace Memorial Park dan bertuliskan...

"Ini adalah tangisan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun perdamaian di dunia."

Sumber : Jepang.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar